NAMA : YUSI KUSNANDASARI
NIM : 180110301020
SEJARAH PEDESAAN KELAS B
REVIEW I SARASEHAN LINTAS GENERASI “ MENELADANI PARA PEJUANG UNTUK MEMAJUKAN UNIVERSITAS JEMBER “
Ibu Amaril putri dari Dr. Raden Achmad.
Dimulai perjuangan pada tahun 1957 Dr. Raden Achmad bersama dengan beberapa cendikiawan
salah satunya adalah Teudosius Soengedi yang merupakan rekan dan sahabatnya. Beliau
mempunyai inisiatif yang sangat mulai yaitu ingin menjunjung tinggi dan menyempurnakan
pendidikan yang khususnya masyarakat Jember. Beliau menghendaki bahwa perluasan dan
peyempurnaan pendidikan tindak hanya ada di kota - kota besar. Keinginan tersebut diimbangi
dengan kerja keras, tekat yang kuat dan komunikasi pada masyarakat serta penguasa daerah.
Hubungan dengan masyarakat Jember pada umumnya membuahkan hasil yang positif. Bapak
Soejarwo yang merupakan Bupati pada saat itu sangat mendukung ide yang membanggakan
tersebut. Mereka saling bahu membahu untuk mewujudkan berdirinya Universitas Jember. Dana
yang diperolah merupakan dana gotong royong dan dana mandiri dari bebrapa orang dikucurkan
demi mewujudkan ide yang mulia ini.
Bapak Widodo putra Bapak Soejarwo
Bapak Soejarwo merupakan bupati yang tidak bisa dilepaskan dari berdirinya Universitas
Jember. Raden Soejarwo sebagai tokoh pendiri unej, dan bupati botol kosong. Raden Soejarwo
adalah seorang nasionalis yang religius, beliau merupakan putra kelahiran jember yang lahir
pada tanggal 16 September 1919. Masa berkarya Raden Soejarwo sebagai pamong praja dialami dalam dua periode yaitu pada periode Hindia Belanda dari tahun 1936-1945 dan periode
kemerdekaan pada tahun 1945-1967. Karayanya diawali menjadi seorang mantri polisi di
kecamatan serta menjadi camat dan wedana di karisidenan Madiun dan Kediri. Pada era perang
kemerdekaan kelas ke satu dan ke dua yaitu pada tahun 1947-1949 R soejarwo bertindak menjadi
staff ketahanan rakyat SPR di wilayah Kandangan, Papar, Kediri. Beliau ikut bertempur
mengangkat senjata guna melawan Belanda. Dalam perjuangan ini Raden Soejarwo mendapat
pangakat dan tanda jasa bintang kedua dalam kemerdekaan. Kemudian Raden Soejarwo
menjabat sebagai bupati Jember. Dimulai pada karirnya yang bertugas sebagai Bupati Jember
yaitu beliau mempunyai program pembangunan yang diutamakan adalah pembangunan sumber
daya manusia dengan membangun sarana sekolah seperti SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi.
Pada saat itu ada yang menjadi hambatan dalam menalankan programnya yaitu terbatasnya dana
APBD Pemda. Sehingga Beliau memebentuk yayasan pendidikan di Kabupaten Jember untuk
menghimpun sumbangan-sumbangan dana darai masyarakat yaitu dari retribusi penjualan
karcis, gula, bahan bakar dan sebagainya. Ada suatu ide unik yang diluncurkan oleh R Soejarwo
yaitu mengumpulkan barang barang bekas dan dijual sebagai tambahan dana. Hal itulah yang
menjadikan Raden Soejarwo dijuluki sebagai Bupati botol kosong. Pada tanggl 4 November
1957 ada tiga orang tokoh masyarakat yaitu Dr. Achmad, Raden T. H Soengedi dan Raden
Soerahman mendirikan sebuah Universitas Swasta Tawang Alun yaitu Unita melalui sebuah
yayasan yang didirikan pada tanggal 05 Oktober 1957. Fakutlas pertama yang didirkan adalah
Fakultas Hukum dengan tempat kuliah masih menumpang. kemudian mulailah dibangun gedung
Unita di Jl. Moh Seruji. Gedung terdsebut merupakan gedung monumental yang merupakn cikal
bakal Universitas Jember. Memasuki tahun 1959 R Soejarwo diangkat sebagai ketua yayasan
Unita menggantikan menggantikan Raden Soengedi, beliu memiliki tugas yang berat yaitu
berjuang untuk menumbuhkan Unita. Dengan demikian empat serangkai yaitu Dr. Achmad,
Raden T. H Soengedi, Raden Soerachman dan Raden Soejarwo dapat disebut sebagai founding
Fathers Universitas Jember. Sejak tahun 1960 Unita semakin berkembang, jumlah fakultas satu
demi satu mulai bertambah yaitu fakultas Sosal Politik, FKIP, Fakultas Kedokteran, dan
Fakultas Pertanian. Tetapi pada saat itu Fakultas kedokteran hanya bertahan dua tahun saja,
dengan alasan kurangnya tenaga pendidik. Yayasan Unita juga merintis hubungan dengan luar
negeri. Mengenai rencana lokasi kampus, Raden Soejarwo sudah memilih Tegalboto, yang
dimana pada saat itu masih hutan belantara dan sekitarnya semak belukar dan sawah. Konon katanya Tegal Boto terkenal dengan julukan sarang penyamun. Kemudian raden Soejarwo
membangun sebuah Jembatan yang dimulai dari Jl. Moh Seruji menuju jalan mastrip. Perjuangan
pembangunan Unita dimulai pada tahun 1961. Dalam perkembangnnya pada tahun 1963 Unita
diresmikan menjadi Uversitas Negeri cabang dari Unibraw. Kemudian perjuangan kenegerian
terus dilakukan hingga berhasilah perjuangan Unita menjadi Universitas Negeri Jember pada
tanggal 9 November 1964. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Unita merupakan embrio
dari Universitas Jember yang dibesarkan dan diperjuangkan kenegeriannya oleh Pemda tingkat
dua Jember yang didukung oleh DPRD oleh saat itu, dimana peran bupati Soejarwo sangat besar.
Kemudian pada akhir 1964 Raden Soejarwo mengakhiri jabatnnya sebagai bupati Jember.
Ibu Lolok Putri R. M Soerachman
(Nanang Hariwibowo Cucu dari R. M Soerachman)
Rden surahman kelhiran mojoagung. Dengan mendirikan unej akan meningkatkan nilai lebih di
kota Jember. Secara umum Universitas Jember sudah sangat maju dengan beberapa cabang yaitu
Jember, Pasuruan, Bondowoso, Lumajang. Universitas jember berdiri dari orang-orang yang
berkeinginan memajukan Jember, dngan demikian pemikiran tersebut menjadi anganan dan
mimpi yang akhirnya dapat terwujud.
Ibu Yayi (Rahayu sundari ) putri dari Bapak Soedi Harjoedojo
Bapak Sudi menunjang pendidikan di Sekolah Taman Siswa hingga Taman Guru dan menjadi
guru. Selanjutnya Beliau ditugaskan di Malang dan bergabung dalam PETA. Beliau menjabat
sebagai komandan garnisun pada tahun 1950 sampai 1958. Pada tahun 1959 atau 1960 Beliau
ditugaskan menjajdi perwira di Jember untuk mengambil alih perkebunan. Bapak menjadi rektor
dan selalu memperhatikan beberpa hal dari Fakultas Pertanian. Beliu memiliki banyak perhatian
pada dunia pendidikan. Bapak selalu menanamkan prinsip bahwa satu disiplin, kedua harga diri,
dimana bahwa diri tidak diperjual belikan dan yang ke tiga adalah jujur. Menurut bapak
kejujuran merupakan suatu hal yang sangat utama namun ketiga prinsip tersbut tidak boleh
dilupakan.
Ibu Riska putri R. Th. Soengedi
Raden Soengedi memiliki anak 11 adan cucu 31. Beliau wafat pada bulan Maret tahun 1969.
Raden Soengedi merupakn sosok pejuang yang luar biasa. Pernah menjabat sebagai Kepala
Sekolah di salah satu SMPK. Dimulai daru perjungan Universitas Jember menjadi berdiri dan
berkembang, dalam memajukan pendidikan Raden Soengedi sering berkeliling guna mencari
tahu informasi tentang pendidikan dari jenjang SD hingga perguruan tinggi. Kemudian Raden
Soengedi bersama empat rekannya membicarakan terkait pendirian Universitas Jember.
Kemudian Universitas Jember berkembang menjadi perguruan tinggi yang maju dan terus
meningkat, sehingga menjadikan Universitas Jember terkenal di penjuru dunia.
Bapak Arinanto anak Bapak Letkol. Soetardjo
Pada waktu itu Bapak Soetarjo sering berfikir bagaimana caranya Universitas Jember bisa
berada dalam satu wilayah dan satu daerah. Bapak Soetarjo selalu mengutamakan pekerjaan
sedangkan keluarga sudah tanggung jawab ibu di rumah. Beliau selalu menjadi orang nomor
satu, yang artinya Bapak selalu menjadi yang nomor satu jarang sekali menjadi nomer dua.
Kejujuran, ketekunanan dan kebijaksanaanya pada keluarga dan pendidikan yang luar biasa patut
kita teladani. Selama menjadi rektor, Bapak Soetarjo sangat memperhatikan mahasiswanya.
Kedekatan Bapak Soetarjo kepada mahasiswa dan para pejabat Universitas patut untuk
diteladani. Selaku menjadi rektor, ketika memerintahkan kepada siapapun selalu menguncapkan
kata “tolong”.
Bapak Bambang Priyanto putra Drs. H. Warsito
Drs. Warsito adalah seorang yang memiliki wawasan luas terutama dalam hal pendidikan.
Selama aktif menjadi tentara para anak anaknya harus dihimbau untuk sekolah dan sekolah terus.
Pandangannya tentang pendidikan ketika Ia menjadi rektor Universitas Jember yaitu memicu
realisasi bibit bitit lain seperti Fakultas Kedokteran gigi. Jember yang belum dikenal di banyak
kalangan sekarang sudah menjadi terkenal dipenjuru dunia. Bapak merintis untuk membangun
bandara dan bekerjasama dengan pemerintah daerah, dan hingga sekarang bandara Jember sudah
aktif. Sekarang unej menjadi univ yang terkenal di Jawa Timur.
Bapak Widiyono putra Prof. Dr. Simanhadi Widyaprakosa
Selama jadi rektor bapak memiliki gagasan untuk memajukan fakultas Teknik dan Kedokteran.
Kejujuran yang sangat dipegang pegang teguh patut untuk kita teladani. Kemudian pesan yang
ditinggalkan oleh Bapak yaitu janganlah neko-neko.
Amanda (Perwakilan dari Dr. Kabul Santoso, M.S)
Selama menjadi Rektor Bapak Kabul sering melakukan penelitian. Selama bapak menjadi rektor
Universitas Jember masih terdiri dari beberapa fakultas saja. Bapak tergolong pemimpin yang
selalu mengkonsolidasikan persatuan. Mendorong seluruh dosen untuk melanjutkan ke
perguruan tinggi. Bapak suka mempelajari budaya dan seni. Bapak Kabul merupakan sosok
yang disiplin.
REVIEW II SARASEHAN PANCASILA NASIONAL “KOMPETISI OLAHRAGA ANTAR NEGARA : REFLEKSI SPORTIVITAS DAN NASIONALISME”
Olahraga bukanlah hanya aktivitas fisik yang mempunyai tujuan kesehatan dan rekreasi semata,
melainkan juga suatu kegiatan sosial yang mempengaruhi jiwa dan kehidupan banyak orang,
baik yang berkecimpung langsung maupun tidak di dalam olahraga tersebut. Studi dalam
sosiologi olahraga menunjukkan bagaimana aktivitas olahraga telah berevolusi bersama dengan
perkembangan masyarakat; dikomersialisasikan, dan dijadikan pertunjukan hiburan. Frey dan
Eitzen (1991) mengungkapkan bahwa olahraga juga memiliki kontribusi politik dalam relasi
internasional bangsa-bangsa dan menjadi alat pembangunan nasional.
Disamping itu, olahraga memiliki andil besar bagi pembentukan identitas nasional dan sadar
rasa nasionalisme dengan secara temporer menghilangkan perbedaan-perbedaan di antara
masyarakat ketika semua fokus pada pertandingan. Perlu dipahami bersama, bahwa olahraga
sangatlah berperan dalam pembentukan solidaritas nasional, yaitu ketika semua pihak mulai dari
atlet sampai penonton bersatu padu membela negara (Frey & Eitzen, 1991). Olahraga dapat
menjadi indikator rasa kebangsaan; merupakan medium yang efektif untuk menanamkan rasa
kebangsaan, menyediakan sebentuk aksi simbolis yang menyatakan keadaan negara itu sendiri.
Nasionalisme olahraga merupakan fenomena sosial yang kompleks, yang diciptakan oleh ikatan
antara negara bangsa dengan olahraga-olahraganya (Tosa, 2015). Peran olahraga bagi
nasionalisme suatu negara di antaranya :
1. Olahraga memiliki andil dalam konstruksi dan reproduksi identitas nasional banyak
orang. Ada hubungan antara olahraga dengan identitas nasional, yang mana hubungan ini
melemah di beberapa negara sebagai akibat dari perubahan masyarakat dunia dan
globalisasi (Beirner, 2001).
2. Olahraga merupakan arena untuk merayakan identitas nasional. Fenomena orang
membawa bendera negara ke stadion kompetisi olahraga internasional seperti Asian
Games, mengenakan kostum nasional, dan mencat wajah dengan warna bendera Negara
(Beirner, 2001). Hal ini dapat memupuk rasa identitas nasional sesama satu Negara dan
satu bangsa.
3. Olahraga menjadi sarana dan ajang orang-orang memikirkan identitas nasionalnya
sendiri, yang mungkin selama ini telah meluntur karena pengaruh globalisasi (Bairner,
2001). Gempuran arus globalisasi yang membawa perubahan salah satunya masuknya
budaya luar yang terkadang ditelan mentah-mentah bangsa kita tentu akan mengikis
identitas nasional kita. Makanya melalui ajang olahraga seperti Asian Games dapat
membangkitkan kembali identitas nasionalbangsa kita.
4. Olahraga memberikan kesempatan bagi wakil-wakil dari negara-negara yang berbeda
untuk terlibat dalam kompetisi yang jujur, dan bagi para penggemarnya untuk bertemu
bersama-sama dalam perhelatan internasional dan saling mengenal satu-sama lain.
Seperti halnya Asian Games yang merupakan ajang pertandingan olahraga antar Negara-
negara di kawasan Asia tentunya akan dapat membina rasa kejujuran dan sportifitas antar
para peserta dari berbagai Negara di kawasan Asia.
Lebih meluas lagi ajang olahraga layaknya Asian Games sangatlah strategis sebagai sarana
memperkokoh spirit kebangsaan, persaudaraan, dan juga perdamaian bangsa-bangsa. Spirit
utama dari Asian Games tentu bukan hanya ajang perhelatan olahraga semata, namun juga
sebagai energi Asia untuk spirit kebangsaan dan perdamaian dunia. Even besar yang baru terjadi
dua kali di Indonesia, yakni di Era Presiden Soekarno Tahun 1962 dan Presiden Jokowi 2018
kali ini, harus dimaknai sebagai peristiwa akbar dalam merajut tenun kebangsaan dan
perdamaian bangsa-bangsa. Sesuai slogan Asian Games, Energy of Asia, kita ingin membawa
spirit bagi solidaritas-perdamaian di kawasan Asia. Kita bisa tengok satu contoh, perhelatan
besar Asian Games 2018 kali ini menjadi saksi sejarah bersatunya Korea Utara dan Korea
Selatan. Langkah ini dilakukan menyusul perdamaian yang dilakukan oleh kedua negara
tersebut. Berdasarkan keputusan Dewan Olimpiade Asia (OCA) dan Inasgoc (Indonesia Asian
Games Organizing Commitee) di Jakarta, Korea Selatan dan Korea Utara akan melebur menjadi
Tim Korea untuk tiga cabang olahraga. Ketiga cabang olahraga tersebut meliputi bola basket
(putri), perahu naga (putra dan putri), serta dayung (putra LM4-, LM8+, dan putri LW2X).
Beberapa contoh tersebut tentu semakin memantapkan kita bahwa Asian Games hendaknya tak
hanya dijadikan sebagai ajang perlombaan semata, akan tetapi lebih daripada itu, yakni sebagai pengukuh rasa nasionalisme kebangsaan, serta lebih meluas lagi dapat menjadi spirit perdamaian
Asia serta dunia.
Komentar
Posting Komentar