Langsung ke konten utama

REVIEW MATERI PERTEMUAN KE-4

 REVIEW MATERI PERTEMUAN KE-4 

 

Nama  : Yusi Kusnandasari 

NIM : 180110301020 

Sejarah Pedesaan Kelas B 

Pertemuan ke-4  15 Oktober 2020  

 

Disini saya akan sedikit mereview materi mata kuliah sejarah pedesaan pertemuan ke-4 15 Oktober 2020. Pengertian mengenai desa memang cukup beragam dari pandangan setiap ahli. Menurut Koentjaraningrat (1984), desa dimaknai sebagai suatu komunitas kecil yang menetap tetap di suatu tempat. Makna ini menekankan pada cakupan, ukuran atau luasan dari sebuah komunitas, yaitu cakupan dan ukuran atau luasan yang kecil. Pengertian lain di kemukakan oleh Hayami dan Kikuchi (1987), desa sebagai unit dasar kehidupan kelompok terkecil di Asia. Paul H. Landis (1948) mengemukakan 3 definisi desa untuk tujuan analisis yang berbeda-beda, yaitu analisis statistic, analisis sosial osikologis, dan analisis ekonomi. Sementara itu, menurut Roucek dan Warren (1962), untuk memahami masyarakat desa dapat dilihat dari karakteristiknya yaitu : 

a. Besarnya peranan kelompok primer. 

b. Faktor geografis sebagai dasar pembentukan kelompok. 

c. Hubungan bersifat akrab dan langgeng. 

d. Homogen. 

e. Keluarga sebagai unit ekonomi. 

f. Populasi anak dalam proporsi lebih besar, 

Menurut Pitrim A. Sorokin dan Carle C. Zimmerman, faktor-faktor yang dapat menentukan karakteristik masyarakat desa dan kota adalah : 

a. Mata pencaharian. 

b. Ukuran komunitas. 

c. Tingkat kepadatan penduduk. 

d. Lingkungan. 

e. Diferensi sosial. 

f. Stratifikasi sosial. 

g. Interaksi sosial. 

h. Solidaritas sosial. 

Sementara itu, desa dalam katagoristiknya terdapat berbagai ragam tipe seperti Desa Swadaya, Desa Swakarya, dan Desa Swasembada. Apabila dilihat dari struktur sosialnya dikategorikan sebagai berikut : 

a. Struktur sosial berdasarkan genealogis misalnya Batak dan Minangkabau. 

b. Struktur sosial dalam hubungan patron-klien misalnya Bone, Makasar. 

c. Struktur sosial berdasarkan luas pemilikan tanah. 

d. Struktur sosial yang kompleks. 

Adapun pola pemukiman dapat dilihat dari beberapa aspek : 

a. Aspek budaya. 

b. Aspek ketersediaan SDA. 

c. Aspek ketergantungan sesama.  

Di samping itu, desa sebagai tempat tinggal dicirikan sebagai berikut : 

a. Pendidiknya terdiri atas suku bangsa yang homogeny. 

b. Hubungannya bersifat tertutup dan genealogis. 

c. Hubungan sosial ekonomi dan bersifat agraris. 

d. Ekologi yang sunyi tetapi menyegarkan. 

e. Arus datang dan pergi manusia sangat jarang. 

f. Potensial pengolahan tanah, perikanan, perkebunan, hutan dan kerajinan.  

Berikutnya, Pitrim Sorokin membedakan struktur sosial menjadi struktur sosial vertical dan horizontal. Struktur sosial vertical ( stratifikasi/pelapisan sosial ) merupakan gambaran dari kelompok-kelompok sosial dalam susunan hirerarkis. Sedangkan struktur sosial horizontal merupakan gambaran mengenai keberagaman pengelompokan sosial dalam masyarakat. Secara umum masyarakat desa merupakan komunitas yang kecil sehingga antara orang yang satu dengan yang lainnya terdapat kemungkinan yang besar untuk saling berhubungan secara langsung dan saling mengenal secara “pribadi”. Pola kebudayaan masyarakat desa termasuk pola kebudayaan tradisional, yaitu merupakan produk dari benarnya pengaruh alam terhadap masyarakat yang hidupnya bergantung pada alam.  


Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW WEBINAR

 NAMA : YUSI KUSNANDASARI NIM : 180110301020 SEJARAH PEDESAAN KELAS B REVIEW I SARASEHAN LINTAS GENERASI “ MENELADANI PARA PEJUANG UNTUK MEMAJUKAN UNIVERSITAS JEMBER “ Ibu Amaril putri dari Dr. Raden Achmad.  Dimulai perjuangan pada tahun 1957 Dr. Raden Achmad bersama dengan beberapa cendikiawan  salah satunya adalah Teudosius Soengedi yang merupakan rekan dan sahabatnya. Beliau  mempunyai inisiatif yang sangat mulai yaitu ingin menjunjung tinggi dan menyempurnakan  pendidikan yang khususnya masyarakat Jember. Beliau menghendaki bahwa perluasan dan  peyempurnaan pendidikan tindak hanya ada di kota - kota besar. Keinginan tersebut diimbangi  dengan kerja keras, tekat yang kuat dan komunikasi pada masyarakat serta penguasa daerah.  Hubungan dengan masyarakat Jember pada umumnya membuahkan hasil yang positif. Bapak  Soejarwo yang merupakan Bupati pada saat itu sangat mendukung ide yang membanggakan  tersebut. Mereka saling bahu membahu untu...