Langsung ke konten utama

Sejarah Pedesaan serta Ekonomi Pedesaan

 Review Buku “ Metodologi Sejarah “ Edisi Kedua Bab 5 dan 6 Karya Kuntowijoyo 

 Nama : Yusi Kusnandasari  

NIM : 180110301020 

 JURUSAN SEJARAH 

FAKULTAS ILMU BUDAYA 

UNIVERSITAS JEMBER 


Dalam buku Metodologi Sejarah edisi kedua karya Kuntowijoyo dijelaskan pengertian pedesaan ialah sejarah yang secara khusus meneliti tentang desa atau pedesaan, masyarakat petani, dan ekonomi pertanian. Selanjutnya sejarah pedesaan mempunyai garapan masyarakat petani. Untuk membedakan sejarah pedesaan yang menggarap masyarakat petani dengan sejarah sosial, sejarah pedesaan harus selalu dapat mengembalikan permasalahan sejarah kepada desa dan pedesaan, atau kepada ekonomi agrarian pedesaan. Ekonomi agraris tentu menjadi bagian dari sejarah pedesaan. Perubahan-perubahan yang terjadi di desa dan di masyarakat petani biasanya menyangkut perubahan ekonomi dari sebuah ekonomi subsistence ke ekonomi exchange. Dalm hal ini kelompok sosial desa seperti pamong praja, pedagang, dan buruh dapat dimasukkan ke dalam kategori ekonomi pertanian, sepanjang masih berbasis pertanian.  

       Desa atau pedesaan sebagai bidang penelitian tentu dapat dimasukkan dalam satuan tertentu. Dalam sejarah pedesaan, desa dapat dimasukkan dalam satuan-satuan ekosistem, geografis, ekonomis, dan budaya. Satuan ekosistem ialah hasil perpaduan antara aktivitas manusia, keadaan biologis dan proses fisik. Dalam satuan geografis terdapat berbagai macam hubungan antara pedesaan. Selanjutnya, satuan geografis seperti perbukitan, daerah aliran sungai, pantai, teluk, selat dan pedalaman desa-desa mempunyai hubungan-hubungan tertentu satu dengan dengan lain. Berikutnya, satuan ekonomis dapat atau tidak menjadi bagian dari satuan geografis dan sebaliknya. Desa-desa di Banten ternyata mempunyai hubungan ekonomis dengan desa-desa di daerah Lampung, dalam artian bahwa banyak orang Banten bekerja di desa-desa di Lampung. Dalam hal ini Selat Sunda dapat menjadi sebuah satuan ekonomis sekaligus satuan geografis. Selanjutnya, dalam hubungan dengan persoalan adat, satuan penelitian pedesaan dapat berupa daerah hukum adat atau suatu Cultural area. Di Indonesia kita mengenal setidaknya 19 hukum adat yang dikemukakan oleh C. van Vollenhoven. Masing-masing daerah hukum adat mempunyai system sosio-ekonomis dan budaya tersendiri. Pokok-pokok permasalahan sejarah desa dapat digolongkan ke dalam berbagai kelompok yaitu bangunan fisik, satuan sosial, lembaga sosial, dan gejala psiko-kultural. Sejarah bangunan fisik pedesaan belum banyak mendapat perhatian dari sejarawan, sekalipun dalam sumber-sumber tradisional dan Belanda banyak keterangan mengenai pedesaan. Sejarah pedesaan disini dapat berupa monografi tentang sebuah satuan penelitian atau khusus mengenai satu desa tertentu, jika memang sumbernya memungkinkan. Selanjutnya, satuan sosial di lingkungan desa dan masyarakat petani sangat kaya dengan permasalahan sejarah. Keluarga, kesatuan desa, kelas sosial, kelompok agama dan budaya, dan kelompok etnis, termasuk di sini. Berikutnya, lembaga-lembaga desa yang berupa pola hubungan sosial dan organisasi-organisasi sosial merupakan tema yang kaya untuk dijadikan kajian. Termasuk disini lembaga pemerintah, keagamaan, politik, ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya.  

       Pembahasan selanjutnya mengenai sejarah ekonomi pedesaan. Sejarah ekonomi masih merupakan hal yang relatif asing bagi sejarawan Indonesia, sekalipun sejarah ekonomi diajarkan di jurusan-jurusan sejarah. Secara singkat, sejarah ekonomi mempelajari manusia sebagai pencari dan pembelanja. Jadi sejarah ekonomi bukanlah interpretasi ekonomis terhadap sejarah, yang termasuk dalam sejarah pada umumnya. Sejarah ekonomi haruslah spesifik, sejarah dari satuan yang konkret dan khusus. Untuk lebih menjelaskan pembidangan sejarah ekonomi dan garapannya, kutipan pendapat  dari W.J Ashley dalam pidato pengukuhannya sebagai chair sejarah ekonomi Harvard 1893, semua itu mengenai sejarah ekonomi pada umumnya, terutama dalam konteks ekonomi industrial. Untuk sejarah ekonomi pedesaan, batasan-batasan itu tentu saja harus diletakkan dalam lingkungan ekonomi pedesaan atau ekonomi petani. Di linhkungan petani perluasan tenaga kerja keluarga, seperti tampak dalam banyak jumlah anak-anak, dianggap sebagai faktor yang menguntungkan dan merupakan investasi.  

       Ekonomi primitif mempunyai keterbatasan yang bersifat ekologis, teknologis dan sosial yang tidak dapat dipahami tanpa adanya keterbatsan tersebut. Pada ekonomi petani terdapat perbedaan ekologi ladang, sawah dan sagu yang tertuang dalam sejarah ekonomi Indonesia hingga menunnjukan bahwa ekologi yang berbeda melahirkan struktur ekonomi yang berbeda pula. Contohnya adalah feodalisme yang merupakan sebuah sistem yang memadukan ekonomi dan sosial. Masuknya ekonomi kolonial dianggap sebagai masuknya ekonomi berdasarkan atas perintah pada zaman Tanam Paksa sehingga menjadikan ekonomi di Indonesia pedesaan merupakan campuran adat yang dominan ditingkat atas dengan birokrasi yang klasik dan perintah yang dominan. Adanya Antropologi dan Sosiologi ekonomi merupakan usaha untuk menumbuhkan ekonomi dengan sistem budaya dan sosial. teori ekonomi hanya berlaku untuk masyarakat industrial sedangkan masyarakat non pasar dan ahli ekonomi harus melihat secara antropologis. Ekonomi primitif dan petani bukan merupakan soal output ataupun produktivitas yang dapat dikuantifikasikan dalam sejumlah peraturan dari organisasi sosial dan struktur sosioekonomis. Penelitian sejarah ekonomimerupakan sumbangan bagi penelitian ekonomi yang dapat membantu memecahkan masalah pada masa kini. Dengan mengetahui sejarah pertumbuhan ekonomi di satu masaahli ekonomi dapat melihat waktu kontemporer sebuah kerangka masa depan yang panjang serta dapat membantu mengeluarkan ahli ekonomi dari pemecahan masalah jangka pendek. Perlu diketahui bahwa gejala ekonomi dan politik merupakan interaksi timbal balik kekuatan yang bersifat ekonomis dan sebagian non ekonomis.  

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

REVIEW WEBINAR

 NAMA : YUSI KUSNANDASARI NIM : 180110301020 SEJARAH PEDESAAN KELAS B REVIEW I SARASEHAN LINTAS GENERASI “ MENELADANI PARA PEJUANG UNTUK MEMAJUKAN UNIVERSITAS JEMBER “ Ibu Amaril putri dari Dr. Raden Achmad.  Dimulai perjuangan pada tahun 1957 Dr. Raden Achmad bersama dengan beberapa cendikiawan  salah satunya adalah Teudosius Soengedi yang merupakan rekan dan sahabatnya. Beliau  mempunyai inisiatif yang sangat mulai yaitu ingin menjunjung tinggi dan menyempurnakan  pendidikan yang khususnya masyarakat Jember. Beliau menghendaki bahwa perluasan dan  peyempurnaan pendidikan tindak hanya ada di kota - kota besar. Keinginan tersebut diimbangi  dengan kerja keras, tekat yang kuat dan komunikasi pada masyarakat serta penguasa daerah.  Hubungan dengan masyarakat Jember pada umumnya membuahkan hasil yang positif. Bapak  Soejarwo yang merupakan Bupati pada saat itu sangat mendukung ide yang membanggakan  tersebut. Mereka saling bahu membahu untu...